Akhlak Taswuf Dan Revolusi Industri 4.0.

Bagikan Info Ini:

Kehidupan manusia terus berkembang dan berubah mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Fase kehidupan manusia saat ini sudah sampai di era revolusi industry 4.0. Era di mana aktivitas kehidupan manusia terkoneksi oleh jaringan. Era yang  telah merubah sistem manual ke otomatisasi. Era yang menerapkan sistem berbasis digital.

Ciri era ini yaitu fleksibilitas, efisiensi, transparansi, otomatisasi. Berdasarkan ciri ataupun karakteristik tersebut, jelas memberikan kemudahan  bagi kehidupan manusia. Akan tetapi, apakah kita sudah tahu apa dampak sebaliknya atau negatif dari era revolusi industri 4.0 ini dan cara mengatasinya?.

Agung Sutrisno menjelaskan beberapa dampak negatif dari revolusi industri 4.0 diantaranya adalah resiko siber, hilangnya pekerjaan dan terjadinya polarisasi kelompok masyarakat. Melalui sistem digital, sering terjadi penipuan dengan memanfaatkan data atau identitas seseorang (ID). Oleh karena itu, manusia dituntut untuk waspada dan berhati-hati dalam menggunakan ID pribadi baik berupa email, nomor hp, NIK, Nomor KK. Karena, bisa saja seseorang yang ahli di bidang teknologi informasi melakukan upaya hacking dengan menggunakan data seseorang, kemudian dengan data seseorang tersebut digunakan untuk penipuan, mencari keuntungan atau bahkan mengirim konten konten yang tidak baik dalam beranda atau status dengan memanfaatkan ID seseorang.

Sistem digital juga dimanfaatkan oleh oknum-oknum dalam mendistibusikan narkoba. Di mana, kita ketahui efek dari narkoba tersebut bisa menjadikan pelaku melakukan tindakan kriminal seperti mencuri, judi, pemerkosaan,  bahkan pembunuhan.

Era revolusi industri 4.0 juga menyebabkan hilangnya pekerjaan. Dimana, tenaga manusia digantikan oleh teknologi. Hal ini dapat dilihat dari pelayanan-pelayanan dalam perusahaan. Penggunaan teknologi informasi sudah berbasis internet dalam hal pelayanan, pengecekan data, validitas data. Hal ini karena penggunaan internet dipandang lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan kerja manusia.

Selanjutnya, dampak negatif dari era ini juga terbentuknya polarisasi kelompok masyarakat. Hal ini terlihat dari fenomena masyarakat yang tersisih akibat pergantian antara tenaga manusia ke tenaga industri. Hal ini menyebabkan terbentuknya kelompok pendatang baru yang update dan menguasai teknologi dengan kelompok lama yang tertinggal dan terpinggirkan dengan cara manualnya. Dimana, pada gilirannya hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan perselisihan yang berujung pada pertengkahan bahkan pembunuhan.

Melihat fenomena yang ditimbulkan dari era tersebut, maka manusia perlu memiliki iman yang kokoh yang teraktual melalui akhlak. Akhlak yang baik diharapkan mampu menyikapi revolusi industri 4.0, yang mampu mengambil peluang besar dari revolusi ini, bukan sebaliknya. Karena secanggih apa pun teknologi hanya berperan sebagai tools atau alat yang memberikan kemudahan bagi manusia. Namun, pada intinya implikasi dari perubahan tersebut bergantung pada individu yang menggunakannya.

Dengan demikian, bagaimana peran akhlak tasawuf dalam menyikapi era revolusi industri 4.0?.

Pertama, akhlak yang baik didasarkan pada aqidah yang hanif. Artinya, seseorang yang memiliki aqidah yang hanif dan kokoh akan menampilkan perilaku terpuji yang mampu membentengi dan mengendalikan diri dari hal-hal negatif yang dihadapinya dalam kehidupan, termasuk dari pengaruh negatif revolusi industri 4.0. Ketika hilangnya pekerjaan yang melibatkan manusia dengan digantinya sistem digital tidak menjadikannya berputus asa, frustasi, meratapi nasib. Melainkan, ia mampu menyikapi dengan baik. Ia mensyukuri kehadiran revolusi industri membawa kesejahteraan bagi manusia, namun ia bersabar dan ridha ketika harus beradaptasi dengan kehidupan baru serta berusaha untuk tetap yakin dan percaya bahwa Allah memberikan jalan rezeki bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dan memohon kepada-Nya. Selanjutnya, dengan bijak ia menyikapi perubahan tersebut dibarengi dengan peningkatan kompetensi diri dan banyak belajar.

Kedua, akhlak tasawuf mampu mengurangi dan mencegah sifat materialistik dan hedonistik melalui konsep zuhud. Zuhud merupakan tahap yang harus ditempuh seseorang dalam rangka dekat dengan Allah dengan cara bersikap sederhana dan menjauhkan diri dari kehidupan duniawi. Maka, di era revolusi industri 4.0 ini semua sistem sudah berbasis internet, manusia lebih leluasa dalam mengakses segala informasi. Namun, ketika manusia tidak mampu mengendalikan diri dari kehidupan dunia dan materi, maka bisa saja ia terpengaruh dengan gaya hidup manusia yang berkembang pada saat itu. Melalui akhlak tasawuf akan menuntun manusia untuk meningkatkan ibadah kepada Allah Swt dan meningkatkan amal saleh, yang menjadi alat bagi manusia agar terhindar dari gaya hidup yang materialistik dan hedonistik.

Ketiga, akhlak memiliki peran yang sangat penting dalam membangun sebuah peradaban. Rusaknya akhlak ataupun moral masyarakat menjadi salah satu faktor penyebab hancurnya sebuah negara bahkan peradaban. Hal ini selaras dengan pendapat Ibnu Khaldun dalam kitab Mukaddimah, dimana ia menyebutkan bahwa sepanjang sejarah banyak bangsa yang telah mengalami kekalahan fisik, tetapi itu tidak pernah menandai akhir dari sebuah bangsa. Akan tetapi ketika sebuah bangsa menjadi korban dari kekalahan psikologis, maka itulah yang menandai akhir sebuah bangsa”.

Pentingnya akhlak, juga terlihat dari misi diutusnya Rasulullah Saw sebagai penyempurna akhlak manusia. Maka, kita dapat melihat bagaimana gambaran peradaban Arab sebelum datangnya Islam. Namun, ketika Rasul hadir menyampaikan misi menyembah Tauhid dan memperbaiki akhlak serta menuntun manusia untuk beribadah menuju Allah (praktek tasawuf) tidak serta merta diterima. Rasulullah mendapati penolakan yang dibarengi sikap ingin mencelakannya. Teladan yang ditampilkan Rasulullah mampu mengantarkan sebuah peradaban Arab jahiliyah ke sebuah peradaban maju, damai dan tentram, itulah Madinatun Nabi.

Keempat, akhlak tasawuf mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia dalam rangka mengabdi kepada-Nya. Maka, kehidupan dunia sebagai jalan dalam menggapai kehidupan akhirat. Ketika manusia mendapati kesulitan dalam hidup, harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Maka, kepada Allah lah manusia meluapkan semua keresahan, kegundahan, kegelisahan hati. Maka, manusia akan merasa ketrentaman, dan ketenangan hati. Kehidupan akhirat sebagai kebahagian spiritual ataupun kebahagiaan yang sesungguhnya.

Hal ini selaras dengan firman Allah Qs. Ar- Raad: 28 yang artinya, “ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

Dengan demikian, manusia menyadari bahwa kebahagiaan hakiki adalah kebahagiaan spiritual yaitu ketenangan hati ketika manusia dapat mengenal-Nya, mendapat berkah dan rahmat-Nya sehingga ia merasakan kebermaknaan hidup. Kehidupan dunia meskipun bergelimang harta, pangkat dan kedudukan, namun hati masih gersang, gelisah, gundah atau belum menemukan ketenangan.

Penulis Merupakan Dosen Akhlak Tasawuf di UIN Syahada Padangsidimpuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *