Menuju Keselarasan Ilmu dan Spiritualitas: Integrasi Theoanthrophoekosentris di UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan

Bagikan Info Ini:

Salah satu persoalan besar pendidikan yang sudah lama dirasakan adalah terkait terpisahnya bangunan keilmuwan menjadi dua atau dikotomi ilmu pengetahuan. Pemisahan bangunan keilmuwan jelas memberikan konsekuensi terpisahnya kelompok keilmuwan agama dan ilmuwan umum. Terjadinya pemisahan kelompok keilmuwan ini karena menganggap berbeda objek yang menjadi wilayah kajian ilmu pengetahuan. Ilmuwan agama menitikberatkan pada ilmu-ilmu agama yang bersumber pada wahyu, sementara kelompok ilmuwan umum menitikberatkan pada ilmu-ilmu umum yang bersumber pada fenomena alam dan fenomena kehidupan manusia.

Dampak terjadinya dikotomi ilmu bukan hanya terpisahnya kelompok ilmuwan, tetapi juga menghasilkan ilmuwan yang split personality (terpecah kepribadiannya). Split personality yang dimaksudakan disini adalah ilmuwan yang cakap atau ahli di bidang agama namun lemah dari aspek ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebaliknya ilmuwan yang ahli di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi lemah di bidang agama. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, jika ilmuwan ahli di bidang agama namun lemah di bidang umum atau teknologi, maka kita akan tertinggal dengan kemajuan zaman atau era global, sementara ilmuwan yang ahli di bidang pengetahuan namun lemah agama, maka akan mengabaikan nilai-nilai islam atau moral dalam upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pada gilirannya, dikahawatirkan proses pengembangan ilmu pengetahuan dalam bentuk teknologi didominasi oleh dorongan hawa nafsu yang kurag memperhatikan nilai-nilai moral dan esensi hidup. Konsekuensi dari hal ini, tidak jarang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di samping mendatangkan kesejahteraan tetapi juga mendatangkan dampak negatif yang sangat meresahkan.

Berkaitan dengan hal tersebut, maka integrasi ilmu merupakan upaya dalam mengatasi hal tersebut. Integrasi berarti memadukan. Makna memadukan disini bukan berarti menyatukan atau mencampuradukkan, karena memang kedua ilmu tersebut memiliki pondasi masing-masing. Namun, integrasi yang dimaksud adalah integrasi yang kontruktif, yang dapat memberikan kontribusi baru jika keduanya tidak terpisahkan. Karena, dipahami secara epistemologi keduanya bersumber dari Allah Swt.

Maka, konsep integrasi ilmu disandarkan pada konsep Tauhid yang bermakna PengEsaan kepada Allah, dan hal ini merupakan tujuan pendidikan Islam dan secara epistemologi pengintegrasian ilmu dilandaskan pada nilai-nilai yang bersumber pada alqur`an dan hadits.

Jabir Al-`Awani sebagaimana dikutip oleh Muhammad Firdaus menjelaskan bahwa integrasi ilmu merupakan dasar yang penting dari pembaharuan agama Islam juga sebagai jalan pembangunan khoiru ummah dan mewujudkan masyarakat yang kontemporer. Maksudnya disini adalah mewujudkan masyarakat yang pemikirannya terbuka dengan perkembangan ilmu pengetahuan namun tetap melandaskan nilai-nilai Islam sebagai pondasinya. Hal senada diungkapkan oleh Istiqomah bahwa integrasi berupaya mewujudkan hubungan yang harmonis antara dua bangunan keilmuwan tersebut, karena disadari kedua ilmu, baik ilmu agama dan ilmu umum bersumber dari Allah . Hal senada diungkapkan oleh A. Ritonga bahwa terwujudnya hubungan yang harmonis antara disiplin ilmu menegaskan jika ada ketergantungan antara disiplin ilmu tersebut atau saling menguatkan. Hal ini juga menegaskan bahwa Tauhid sebagai metodologi pengembangan khasanah ilmu pengetahuan.

Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat dipahami bahwa upaya integrasi ilmu diharapkan dapat menghasilkan ilmuwan yang paripurna yang selalu mengingat Allah dan memikirkan ciptaan-Nya dengan potensi akal yang telah dianugerahkan Allah, yang digambarkan sebagai manusia yang selalu mendasarkan nilai-nilai Islam dalam setiap aktivitsnya. Ia mencintai Allah, taat dan tunduk terdapat ketentuan-Nya, hatinya selalu terpaut kepada Allah, lisannya

selalu berzikir mengagungkan-Nya dan perbuatannya selalu menampilkan akhlak yang mulia.

Tranformasi STAIN/IAIN menjadi UIN merupakan salah satu langkah aktualisasi integrasi ilmu. Begitu juga dengan transformasi IAIN Padangsidimpuan menjadi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2022 tertanggal 08 Juni 2022. Transformasi atau alih bentuk ini sebagai langkah Perguruan Tinggi Islam mewujudkan Perguruan Tinggi yang berkualitas yang mampu memenuhi tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berdaya saing internasional atau global.

Ciri khas dari UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary adalah dengan paradigma Teoantropoekosentris. Paradigma Teoantropoekosentris merupakan sebuah pendekatan yang berpusat pada Tuhan (Ilahiyah), manusia (insaniyah) dan lingkungan (kauniyah). Artinya, terdapat hubungan yang integratif atau terpadu antara Tuhan, manusia dan alam/lingkungan dalam pengaktualan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Melalui paradigma theoantropoekosentris diharapkan IAIN Padangsidimpuan yang sekarang sudah menjadi UIN Syahada Padangsidimpuan mampu mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga memiliki daya saing tidak hanya di tingkat lokal, nasional tetapi juga internasional. Alih bentuk IAIN Padangsidimpuan menjadi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary juga tertuang di dalam RIP atau Rencana Induk Pengembangan IAIN Padangsidimpuan tahun 2020-2044 sesuai dengan SK Rektor Nomor 445 Tahun 2020. Dimana, dalam Rencana Induk Pengembangan tersebut IAIN Padangsidimpuan mampu menjadi Center for Islamic Educating and Research University dan dengan visi, “Menjadi Universitas Islam Bertaraf Internasional yang memiliki paradigma Theoantropoekosentris (al-Ilahiyah, al-Insaniyah, al-Kauniyah) dalam Membangun Masyarakat yang Saleh, Moderat, Cerdas, dan Unggul. Visi tersebut menggambarkan terciptanya masyarakat kampus dan masyarakat umum yang umum yang beriman, taat serta sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah, selalu menghindarkan perilaku atau pengungkapan yang ekstrem dan

berkecenderungan ke arah jalan tengah, sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, menganalisa) dan tajam pikiran serta lebih pandai dan cakap.

Penegasan tentang Visi lembaga tersebut disampaikan oleh Bapak Dr. Erawadi, M. Ag. selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga dalam amanat apel pagi di Unit FTIK pada hari Senin tanggal 19 September 2022 yang menyebutkan bahwa dengan alih bentuk IAIN Padangsidimpuan menjadi UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary dengan paradigma Teoantroekosentris sebagai langkah dalam mewujudkan WCU atau World Class University, Universitas Bertaraf Dunia atau Internasional.

Paradigma Theoantropoekosentris yang menjadi ciri khas dari UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary ini juga terlihat dari logo yang ada. Dimana, simbol- simbol yang ada di dalam logo tersebut menggambarkan identitas, citra dan karakter suatu lembaga. Adapun makna dari setiap simbol yang ada dalam logo UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary sesuai SK Rektor Nomor 1 tanggal 2 Agustus 2022 adalah sebagai berikut:

Pertama, kubah mesjid melambangkan nilai-nilai Ilahiyah yang menaungi kehidupan kampus islami. Kedua, rumah adat tapanuli (Bagas Godang) mengartikan nilai-nilai insaniyah dengan ciri kearifan lokal sebagai simbol kekuatan dan kerjasama dalam mengembangkan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ketiga, bola dunia menggambarkan nilai Kauniyah sebagai wujud kepeduliaan terhadap lingkungan keindonesiaan menuju Universitas Islam bertaraf internasional. Keempat, kitab mencerminkan sumber keislaman dan keilmuwan dalam mengembangkan masyarakat yang salih, moderat, cerdas dan unggul. Kelima, tulisan “UIN” menggambarkan identitas kelembagaan universitas.

Dengan kekhasan paradigma Theoantropoekosentris UIN Syek Ali Hasan Ahmad Addary ini, kita berharap akan terjadi integrasi keilmuwan yang kuat. Seseorang yang mendalami sumber-sumber ajaran Islam akan memperoleh informasi yang bersifat deduktif untuk mengembangkan bidang ilmu yang ditekuni, dan sebaliknya penguasaan ilmu yang ditekuni memberi sumbangan pada upaya memperluas makna kitab suci alquran dan hadist. Sehingga apa yang menjadi tujuan UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary dapat tercapai yaitu ulul

albab, sebagaimana digambarkan dalam QS. Ali Imran/190-191 yaitu orang yang mengingat Allah dan memikirkan ciptaan Allah baik yang ada di langit maupun di bumi. Secara sederhana dapat dikatakan sebagai oarng yang berpikir dan berzikir. Inilah yang menunjukkan keselarasan antar Tuhan, manusia dan alam. Melalui paradigma Theoantropoekosentris ini juga sebagai bentuk pencapaian tujuan hidup manusia yaitu `abd Allah dan khalifah fil ardh. Dimana ketika manusia berhubungan dengan Allah dalam rangka melaksanakan peran sebagai `abd Allah dan ketika manusia berhubungan dengan alam dalam rangka pengaktualan peran sebagai khalifah fil ardh. Artinya, terdapat keselarasan atau harmonisasi antara Tuhan, manusia dan alam. Inilah yang menjadi basis Theoantropoekosentris.

Semoga harapan tersebut tidak hanya sekedar slogan, tetapi menjiwai dan terimplementasi dengan baik oleh setiap individu yang ada di dalamnya. Artinya, dalam upaya pencapaian tersebut, perlu sinergitas antara pimpinan, dosen, mahasiswa dan tenaga kependidikan. Perlu langkah yang konkret dalam mewujudkannya. Menurut Farid Fauzi terdapat 8 indikator dalam mewujudkan World Class University yaitu meningkatkan kuantitas dan kualitas hasil penelitian dan karya ilmiah yang terpublikasi baik di tingkat lokal, nasional dan juga internasional; memberikan pelayanan yang berkualitas; pengembangan website; sistem kepemimpinan; pelaksanaan good university governance; aliansi dan jaringan lembaga dengan lembaga lain; internasionalisasi lembaga; dan penerapan budaya kampus dengan nilai-nilai keislaman dalam pembentukan karakter mahasiswa.

Kedelapan indikator tersebut, dapat menjadi acuan dalam mengembangkan UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary menjadi Perguruan Tinggi Islam Berkualitas Tingkat Dunia sehingga mampu meraih kembali kejayaan Islam pada Masa Dinasti Abbasiyah, dan secara lebih khusus menarik minat masyarakat sehingga menjadikan UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary sebagai tempat tujuan pendidikannya.

Ditulis Oleh: Nursri Hayati, M.A Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Syahada Padangsidimpuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *