Terapi Politik Pasca Pemilu: Upaya Membangun Kedewasaan dan Rekonsiliasi Demokrasi

Bagikan Info Ini:

Pasca pemilu, masyarakat seringkali menghadapi periode yang penuh tantangan, di mana perbedaan pendapat dan konflik politik dapat menciptakan ketegangan dan polarisasi. Kontestasi 5 tahunan ini sering menimbulkan sekat2 dalam masyarakat yang dapat menjadi pemicu konflik antar pribadi yang berlarut2. Sebagai upaya menyambung kembali sekat2 yang sudah terjadi, terapi politik dapat membantu memulihkan hubungan masyarakat yang terbelah dan mempromosikan kolaborasi yang demokratis. Terapi politik pasca pemilu bukan hanya sekadar menangani luka-luka politik, tetapi juga membangun jembatan untuk memperkuat dasar demokrasi.

Pertama-tama, terapi politik pasca pemilu dapat berfungsi sebagai ruang dialog konstruktif untuk memperdalam pemahaman antar kelompok masyarakat. Melalui forum-forum terbuka dan sesi diskusi, orang-orang dapat berbagi pandangan mereka tanpa takut dicemooh atau dijauhi. Terapi politik membantu menciptakan lingkungan yang mendukung pertukaran ide dan empati, memudahkan proses rekonsiliasi antara kelompok-kelompok yang berbeda pilihan politik.

Terapi politik juga dapat membantu mengidentifikasi akar permasalahan yang mungkin muncul selama kampanye pemilu dan membantu masyarakat untuk mengatasinya. Dengan menciptakan ruang aman di mana orang-orang dapat mengungkapkan ketidakpuasan, kekecewaan, atau ketidaksetujuan mereka, terapi politik memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk memahami kompleksitas isu-isu yang dihadapi dan mencari solusi bersama sehingga kedewasaan dalam berpolitik dapat terwujud. Kedewasaan berpolitik senada dengan pendapat aristoteles bahwa kedewasaan berpolitik merupakan proses instingtif selama negara dapat menempatkan warganya sebagai orang baik.

Selain itu, terapi politik memfasilitasi pembangunan kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dengan membuka dialog yang jujur dan terbuka, masyarakat dapat mulai membangun kembali kepercayaan yang mungkin terkikis selama proses pemilu yang sengit. Ini penting untuk menciptakan dasar yang kuat bagi kolaborasi dan partisipasi yang lebih baik di masa depan.

Terapi politik juga dapat memainkan peran dalam mendukung pemimpin dan partai politik untuk menyelesaikan perbedaan dan bekerja sama untuk kepentingan masyarakat. Melalui pendekatan ini, terapi politik dapat mengubah dinamika politik yang bersifat kompetitif menjadi kolaboratif, membantu masyarakat untuk melihat bahwa pilihan politik yang beragam dapat mendukung tujuan bersama pembangunan yang berkelanjutan.

Dalam konteks terapi politik pasca pemilu, peran media juga sangat penting. Media memiliki kekuatan untuk membentuk opini publik dan memainkan peran dalam mengarahkan narasi pasca pemilu. Oleh karena itu, terapi politik juga melibatkan upaya untuk mengembangkan media yang lebih bertanggung jawab, netral, dan mendorong diskusi yang seimbang.

Sebagai kesimpulan, terapi politik pasca pemilu dapat menjadi instrumen penting dalam memulihkan dan memperkuat fondasi demokrasi. Dengan memberikan ruang untuk dialog, identifikasi masalah, membangun kepercayaan, dan mendukung kolaborasi, terapi politik dapat membantu masyarakat untuk melewati masa-masa pasca pemilu dengan cara yang membangun, bukan merusak, inti demokrasi mereka.

Penulis: Muhammad Syukri Pulungan, S.Sos.I, M.Psi Dosen BKI UIN Syahada Padangsidimpuan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *